Rabu, 19 Juni 2013

strategi pembelajaran melalui bercerita


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pemahaman tentang pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran adalah hal yang sangat penting, terutama dalam konteks penguasaan konsepsional terhadap pembelajaran. Strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode atau prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.
Pemilihan strategi pembelajaran sangatlah penting. Artinya, bagaimana pengajar dapat memilih kegiatan pembelajaran yang paling efektif dan efisien untuk menciptakan pengalaman belajar yang baik, yaitu yang dapat memberikan fasilitas kepada peserta didik mencapai tujuan pembelajaran (Gafur, 1989). Namun, harus diingat bahwa tidak ada satupun strategi pembelajaran yang paling sesuai untuk semua kondisi dan situasi yang berbeda, walaupun tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sama. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas dan ketrampilan pengajar dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran, yaitu yang disusun berdasarkan karakteristik peserta didik dan situasi kondisi yang dihadapinya.
Strategi pembelajaran yang akan dipilih dan digunakan oleh pengajar bertitik tolak dari tujuan awal pembelajaran. Dengan demikian, penerapannya pun harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, sehingga diharapkan terdapat keselarasan antara tujuan dan pelaksanaan. Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini  salah satu karakteristik anak adalah Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, bermakna, menarik, dan fungsional. Strategi pembelajaran melalui bercerita dapat di gunakan dalam pembelajaran anak usia dini.
B.  RumusanMasalah
1.      Apa yang dimaksud dengan strategi bercerita?
2.      Apa saja langkah-langkah dalam strategi bercerita?
3.      Apa manfaat cerita bagi anak?
4.      Apa kelebihan dan kekurangan pembelajaran terpadu?
C.  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah adalah sebagai salah satu tugas kelompok mata kuliah strategi pembelajaran anak usia dini
D.  Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan adalah metode kepustakaan dan metode searching internet. Metode studi pustaka merupakan metode dengan pencarian materi makalah di buku-buku yang berkaitan dengan materi makalah. Sedangkan metode searching internet merupakan metode pencarian data makalah dengan mencari, memilah, dan mengolah data-data yang ada di internet yang berkaitan dengan materi makalah.
E.  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
  1. Bagi anak:anak-anak akan mendapatkan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan melalui cerita-cerita yang didengar.
  2. Bagi pendidik: Strategi belajar melalui bercerita akan menambah wawasan dan kualitas pendidik.










BAB II
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN
MELALUI BERCERITA

A.  Strategi Pembelajaran melalui Bercerita
Soedjadi (1999: 101) menyatakan:
Strategi pembelajaran adalah suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah suatu keaadan pembelajaran yang diharapkan. Soedjadi menyebutkan bahwa dalam satu pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode dapat digunakan lebih dari satu teknik. Secara sederhana dapat diruntut sebagai rangkaian: teknikàmetodeàpendekatanàstrategi
Cerita adalah salah satu cara untuk menarik perhatian anak. Biasanya cerita disukai anak, yaitu cerita yang berkaitan dengan dunia binatang.
Menurut Abudin Nata Metode bercerita adalah suatu metode yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan anak. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita yang pengaruhnya besar terhadap perasaan. Oleh karenanya dijadikan sebagai salah satu teknik pendidikan.
Dunia kehidupan anak-anak itu dapat berkaitan dengan lingkungan keluarga,
sekolah, dan luar sekolah. Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi pengalaman bagi anak di PAUD yang bersifat unik dan menarik yang menggetarkan perasaan anak dan memotivasi anak untuk mengikuti cerita sampai tuntas.
Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode bercerita adalah menuturkan atau menyampaikan cerita secara lisan kepada anak didik sehingga dengan cerita tersebut dapat disampaikan pesan-pesan yang baik. Dengan adanya proses belajar mengajar, maka metode bercerita merupakan suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pesan atau materi pelajaran yang disesuaikan dengan kondisi anak didik.
Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak dipergunakan di Taman Kanak-kanak. Metode bercerita merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak PAUD dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak PAUD.
Penggunaan bercerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di Taman Kanak-kanak haruslah memperhatikan hal-hal berikut:
1.      Isi cerita harus terkait dengan dunia kehidupan anak PAUD.
2.      Kegiatan bercerita diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan sesuai dengan dunia kehidupan anak yang penuh suka cita
3.      Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi pengalaman bagi anak PAUD yang bersifat unik dan menarik.
Beberapa macam teknik bercerita yang dapat dipergunakan antara lain guru dapat membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flannel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu cerita, atau bercerita dengan menggunakan jari-jari tangan.
Bercerita sebaiknya dilakukan dalam kelompok kecil untuk memudahkan guru mengontrol kegiatan yang berlangsung sehingga akan berjalan lebih efektif. Selain itu tempat duduk pun harus diatur sedemikian rupa, misalnya berbentuk lingkaran sehingga akan terjalin komunikasi yang lebih efektif.

B.  Langkah-langkah pembelajaran melalui bercerita
Kegiatan bercerita merupakan kegiatan yang memiliki manfaat besar bagi perkembangan anak serta pencapaian tujuan pendidikan. Sebelum melaksanakan kegiatan bercerita guru terlebih dahulu harus merancang kegiatan bercerita berupa langkah-langkah yang harus ditempuh secara sistematis.
Strategi pembelajaran melalui bercerita terdiri dari 5 langkah. Langkah-langkah dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Menetapkan tujuan dan tema cerita.
2.      Menetapkan bentuk bercerita yang dipilih, misalnya bercerita dengan membaca langsung dari buku cerita, menggunakan gambar-gambar, menggunakan papan flannel, dst.
3.      Menetapkan bahan dan alat yang diperlukan dalam kegiatan bercerita sesuai dengan bentuk bercerita yang dipilih.
4.      Menetapkan rancangan langkah-langkah kegiatan bercerita, yang terdiri dari:
a.    menyampaikan tujuan dan tema cerita,
b.    mengatur tempat duduk,
c.    melaksanaan kegiatan pembukaan,
d.   mengembangkan cerita,
e.    menetapkan teknik bertutur,
f.     mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.
5.      Menetapkan rancangan penilaian kegiatan bercerita.
Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan bercerita serta tema yang dipilih oleh guru menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan lainnya. Guru memiliki kebebasan untuk menentukan bentuk cerita yang dipilih, sepanjang bisa menggambarkan isi cerita dengan baik. Bahan dan alat yang dipergunakan dalam kegiatan bercerita sangat bergantung kepada bentuk cerita yang dipilih sebelumnya.
Pengaturan tempat duduk, merupakan hal yang patut mendapat perhatian karena pengaturan yang baik membuat anak merasa nyaman dan dapat mengikuti cerita di samping teknik bercerita, dan teknik.
C.  Manfaat Cerita
Pencapaian tujuan pendidikan Taman Kanak-kanak dapat ditempuh dengan strategi pembelajaran melalui bercerita. Masitoh dkk. (2005: 10.6) mengidentifikasi manfaat cerita bagi anak TK, yaitu sebagai berikut:
  1. Bagi anak TK mendengarkan cerita yang menarik dan dekat dengan lingkungannya merupakan kegiatan yang mengasyikkan.
  2. Guru dapat memanfaatkan kegiatan bercerita untuk menanamkan nilai-nilai positif pada anak.
  3. Kegiatan bercerita juga memberikan sejumlah pengetahuan social, nilai-nilai moral dan keagamaan.
  4. Pembelajaran dengan bercerita memberikan memberikan pengalaman belajar untuk mendengarkan.
  5. Dengan dengan mendengarkan cerita anak dimungkinkan untk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
  6. Membantu anak untuk membangun bermacam-macam peran yang mungkin dipilih anak, dan bermacam layanan jasa yang ingin disumbangkan anak kepada masyarakat.
D.  Kekurangan dan kelebihan strategi pembelajaran melalui bercerita
Metode bercerita sangat umum digunakan dalam pembelajaran anak usia dini, khususnya dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai yang hendak diinternalisasikan kepada anak. Adapun kelebihan metode ini adalah:
1.      Dapat meningkatkan motivasi anak untuk belajar, karena anak sangat senang dengan cerita-cerita.
2.      Sangat sesuai untuk pendidikan afektif (nilai), sebab metode ini dapat menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada anak melalui contoh-contoh dalam cerita sehingga mendorong anak untuk melakukan kebaikan tersebut, sekaligus menghindari perbuatan buruk yang digambarkan dalam cerita guru.
3.      Tidak membutuhkan banyak alat dan media pembelajaran.
 Adapun kelemahannya antara lain:
1.   Dalam pembelajaran ini biasanya guru lebih dominan, sehingga peran aktif anak sedikit terbatas. Oleh karena itu, guru harus mampu mengkolaborasikan metode ini dengan metode-metode yang lainnya seperti tanya jawab dan bernyanyi.
2.   Guru dituntut untuk benar-benar menguasai teknik bercerita yang baik, sehingga anak tertarik dengan cerita yang dibawakannya sekaligus pesan yang ingin disampaikan akan diterima anak dengan baik.


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dalam penerapan strategi pembelajaran melalui bercerita guru harus menyusun langkah-langkah pembelajaran melalui becerita dan menguasai teknik-teknik bercerita yang baik agar anak tertarik dan memahami isi dan tujuan yang ingin di sampaikan guru kepada anak didik.





















DAFTAR PUSTAKA

Rochmadi, Aries. 2011., Penerapan Strategi Pembelajaran Melalui Bercerita; http://rohmadiaris21.blogspot.com. Diakses pada tanggal 04 Juni 2013.
Ebe. 2010.,Strategi Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini; http://ebekunt.wordpress.com. Diakses pada tanggal 04 juni 2013.
Nur Lailatul Fitrotin. 2012., Strategi Pembelajaran PAUD; http://blog2.tp.ac.id/nurlailatulfitrotin. di akses pada tanggal 04 juni 2013.
Muhammad Fadillah dan Lilif Mualifatu Khorida. 2013. Pendidikan karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta; Ar-Ruzz Media.
Novi Romawati dan Aamprogresif. 2011. Pengertian Metode Bercerita. Diakses pada tanggal 18 Juni 2013 di  http://id.shvoong.com









perkembangan sosial emosional anak usia 2-3 tahun


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual.
Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.
Kemampuan Sosial – Emosional Anak bertujuan agar anak merasa percaya diri, mampu bersosialisasidengan orang lain, menahan emosinya jika berada dalam suatu keadaan sesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan anak. Pengembangan sosial anak dapat dikembangkan dengan mengajak anak untuk mengenal diri dan lingkungannya. Interaksi dengan keluarga sendiri dan orang lain juga akan menbantu anak membangun konsep dirinya. Dengan bermain anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, misalnya dengan bermain peran prilaku. Dengan belajar beberapa peran tersebut, anak dapat belajar mengenai baik atau buruk, boleh atau tidak dilakukan. Berdasarkan uraian tersebut penulis menyusun makalah dengan judul perkembangan sosial dan emosional anak usia 2-3 tahun.
B.  Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan emosi dan sosial pada anak usia 2-3 tahun?
2.      Bagaimana Karakteristik perkembangan sosial dan emosional pada anak usia 2-3 tahun?
3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan soisal dan emosional anak usia 2-3 tahun?
4.      Apa saja yang menjadi Gangguan pada perkembangan sosial emosional anak usia 2-3 tahun?
5.      Bagaimana cara menstimulasi perkembangan sosial emosional anak usia 2-3 tahun ?
C.  Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Memenuhi tugas teerstruktur mata pelajaran perkembangan anak usia dini
2.      Mengetahui definisi sosial emosional anak usia 2-3 tahun
3.      Mengetahui karakteristik perkembangan sosial dan emosional anak usia 2-3 tahun
4.      Mengatahui gangguan pada perkembangan sosial emosional anak usia 2-3 tahun.
5.      Mengetahui cara menstimulasi perkembangan sosial emosional anak usia 2-3 tahun



BAB II
PERKEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN
A.  Pengertian Sosial dan Emosional
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diri seseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan.
Sedangkan menurut Menurut L. Crow & A. Crow, emosi adalah pengalaman yang afeektif yang disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan menttal dan fisiologi sedang dalam kondisi yang meluap-luap, juga dapat diperlihatkan dengan tingkah laku yang jelas dan nyata.
Perkembangan sosial anak adalah tahapan kemampuan anak dalam berperilaku sesuai dengan harapan lingkungan (Hurlock,1998).
Departemen pendidikan dan kebudayaan (1997) menyatakan bahwa perkembangan sosial adalah suatu proses perubahan yang berlangsung secara terus-menerus menuju pendewasaan yang memerlukan adanya komunikasi dengan masyarakat. Masa kanak-kanak merupakan awal kehidupan sosial yang berpengaruh pada anak, diamana anak akan belajar mengenal dan menyukai orang lain melalui aktifitas sosial. Apabila pada masa kanak-kanak ini anak mampu melakukan hubungan sosial dengan baik akan memudahkan bagi anak dalam melakukan penyesuaian sosial dengan baik dan anak akan mudah diterima sebagai anggota kelompok sosial di tempat mereka mengembangkan diri (Hurlock,1998).
B.  Pola Perkembangan Sosial dan emosional anak
Beberapa area utama dari perubahan aspek sosial-emosi yang berlangsung pada diri anak adalah :
1.       Pertemanan. Anak ingin disukai oleh teman-temannya. Ia ingin bisa bermain dengan sebanyak mungkin teman. Anak mulai memahami bahwa fungsi pertemanan termasuk didalamnya aturan untuk berbagi, memberi dukungan, bergantian, dan berbagai keterampilan sosial lainnya.
2.       Kemandirian. Anak meningkatkan usaha agar dapat melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan kegiatannya sehari-hari. Peran ibu dan bapak sebagai orangtua sangat penting. Anak membutuhkan kesempatan untuk berlatih mandiri agar pekerjaannya menjadi lebih baik.
3.       Moralitas. Anak mulai mengenali yang salah dan benar. Ia mulai memahami tentang berbohong dan mengapa ia tidak boleh berbohong. Meski beberapa kali anak masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya dengan berbohong.

C.  Karakteristik Perkembanngan Sosial Dan Emosional Pada Anak Usia 2-3 Tahun
1.      Karakteristik Perkembangan Emosi Anak Umur 2-3 Tahun
a.        Secara suka rela mau untuk tidur siang atau istirahat. Anak sudah mau tidur siang tanpa ada paksaan dari orangtua/pengasuhnya. Anak sudah mampu mengenali ritme kegiatan sehari-hari, sehingga pada jam yang semestinya anak tidur siang, anak langsung melakukannya dengan sukarela
b.      Mulai menunjukkan kemampuan untuk mengendalikan diri
c.       Anak sudah mulai mampu menahan tangis dan tawa
d.      Mulai menggunakan kata-kata atau gerakan yang kompleks untuk mengungkapkan perasaan atau keinginan
e.       Bila pada anak usia 1 tahun kemampuan berbahasanya masih terbatas, maka pada usia 2-3 tahun, kosakata yang dimiliki anak lebih banyak dan bervariasi, sehingga anak lebih mampu mengungkapkan emosi/keinginannya dengan lebih komplek. Dari segi perkembangan bahasa, anak sudah mampu mengucapkan satu/dua kalimat utuh.
f.       Mengungkapkan emosi melalui bermain pura-pura. Di usia ini, kemampuan anak berimajinasi mulai berkembang. Itu sebabnya mereka sangat suka bermain pura-pura. Bermain pura-pura biasanya akan melibatkan koleksi boneka.  Melalui boneka, anak akan menjadikannya sebagai alat pelampiasan kasih saying, kekesalan hatinya atau kesedihan hatinya. Bila anak laki-laki bermain boneka juga, orangtua tidak perlu buru-buru khawatir, karena secara alami anak-anak akan tertarik pada boneka bayi atau boneka manusia. Mereka senang melihat boneka bayi laki-laki dan boneka bayi perempuan dan ingin memilikinya. Baik anak perempuan dan anak laki-laki akan memperoleh manfaat dari bermain boneka. Fase ini sangat bermanfaat bagi anak, sebab dengan bermain boneka, anak akan berlatig untuk mengembangkan sikap empati dan simpati kepada orang lain. Selain itu mereka juga akan diperkenalkan dengan aspek khidupan sehari-hari.
g.      Berintraksi dengan orang dewasa  secara hangat dan positif tetapi tidak terlalu tergantung
2.       Karakteristik perkembangan sosial pada anak usia 2-3 tahun ;
a.    Mulai senang bergaul dengan teman
b.    Anak ingin disukai oleh teman-temannya. Ia ingin bisa bermain dengan sebanyak mungkin teman. Anak mulai memahami bahwa fungsi pertemanan termasuk didalamnya aturan untuk berbagi, memberi dukungan, bergantian, dan berbagai keterampilan sosial lainnya
c.    Meniru kegiatan orang lain
d.   anak berada dalam tahap identifikasi, menirukan gerakan./mimik yang dilakukan oleh orang lain
e.    Menunjukkan rasa sayang kepada saudara-saudaranya
f.     ini ditunjukkka dengan cara mengucapkannya, memeluk dan mencium adik atau kakaknya.
g.      Senang menirukan lagu dan dongeng-dongeng
h.      anak senang berdendang lagu yang ia senangi dan senang mengulang-ulang cerita yang diperdengarkan.
i.        Mulai mandiri dalam mengerjakan tugas
j.        Anak meningkatkan usaha agar dapat melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan kegiatannya sehari-hari. Seperti mulai mampu untuk buang air kecil sendiri baik.
k.      Mulai mengerti bagaimana perilaku berhubungan konsekuensi. Sebagai contoh, ketika anak tidak diajak bermain oleh teman sebayanya lalu anak tersebut merespon dengan cara menangis dan marah. Pada saat bersamaan anak belajar menemukan perilaku yang mana yang diterima oleh teman sebayanya dan perilaku  mana yang tidak diterima oleh teman sebayanya serta anak belajar menemukan dan menunjukkan berbagai bentuk emosi dirinya dan temannya.
l.        Berbagi benda-benda dengan anak lain ketika di minta
D.  Faktor-Faktor Yang mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional
Proses pertumbuhan dan perkembangan anak tidak selamanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor yang mempengaruhinya, baik faktor yang dapat dimodifikasi/diubah, maupun faktor yang tidak dapat diubah. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut;
a.       Faktor heriditer/genetik
Faktor heriditer pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual (Supartini, 2000).
Faktor genetik merupakan faktor keturunan dari orang tua kepada anaknya. Faktor ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,  pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh seperti temperamen. Potensi genetik yang berkualitas hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif agar memperoleh hasil yang optimal.
b.      Faktor Lingkungan/ eksternal
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia tersebut sesuai dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a.       Lingkungan pranatal (faktor lingkungan ketika masihdalam kandungan).
Faktor pranatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu hamil, faktor mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio.
b.      Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran )
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
·         Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi, perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi metabolisme.
·         Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah, dan radiasi.
·         Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar, teman sebaya, stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak dengan orang tua.
·         Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan atau pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas rumah tangga, kepribadian orang tua.
c.       Faktor Status Sosial ekonomi
Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status sosial yang tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan gizinya dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan dalam status ekonomi yang rendah.
d.      Faktor nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang selanjutnya dapat terhambat.
e.       Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun sebaliknya, apabila kondisi status kesehatan kurang baik, akan terjadi perlambatan.
E.  Gangguan Pada Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 2-3 Tahun
1.     Autisme
Autisme adalah istilah yang digunakan untuk sekumpulan gangguan perkembangan secara neurologik dimana individu yang mengalaminya akan mengalami gangguan pada kemampuan interaksi sosialnya dan keterampilan komunikasinya, serta kecenderungan untuk mengulangi suatu perilaku tertentu. Terdapat berbagai macam bentuk autisme, dari seseorang yang dapat berperilaku baik pada berbagai keadaan, sampai seseorang yang mengalami gangguan bicara dan keterampilan harian sederhana.
Autisme biasanya didiagnosa pada usia balita atau usia prasekolah, walaupun ada juga yang didiagnosa pada usia yang lebih tua. Menurut laporan, sekitar 20% anak yang mengalami autisme mengalami sesuatu yang disebut sebagai regresi, yaitu mereka tampaknya mengalami suatu perkembangan normal tetapi kemudian kehilangan keterampilan komunikasi dan sosial. Anak laki-laki mempunyai resiko tiga sampai empat kali lipat untuk mengalami autisme dari pada anak perempuan. Autisme dapat terjadi pada semua kelompok ras, etnik, dan sosial manapun. Berbagai macam faktor yang diduga berhubungan dengan autisme antara lain faktor infeksi, metabolisme, genetik, neurologik, dan lingkungan.
Menurut bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini tidak ada satupun hipotesis yang mendukung pernyataan bahwa vaksin MMR, atau kombinasinya, dapat menyebabkan terjadinya autisme maupun bentuk autisme regresif. Pertanyaan-pertanyaan akan adanya kemungkinan kaitan antara vaksin MMR dan autisme telah diteliti secara luas oleh National Academy of Sciences, Institute of Medicine, Amerika. Penelitian ini menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti epidemiologi yang ada saat ini bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.
2.     Tantrum
Temper Tantrum (mengeluarkan amarah yang hebat untuk mencapai maksudnya), suatu letupan amarah anak yang sering terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun di saat anak menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya. Perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan
membuat Anda semakin jengkel, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, dan sebagainya. Bahkan pada anak yang lebih kecil, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.
Mengapa Temper Tantrum ini bisa terjadi ? Hal ini disebabkan karena anak belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan amarahnya secara tepat. Tentu saja hal ini akan bertambah parah jika orang tua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anaknya, dan tidak bisa mengendalikan emosinya karena malu, jengkel, dan sebagainya.
Beberapa penyebab konkrit yang membuat anak mengalami Temper Tantrum adalah :
a.       Anak terlalu lelah, sehingga mudah kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
b.      Anak gagal melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tidak mampu mengendalikannya. Hal ini akan semakin parah jika anak merasakan bahwa orang tuanya selalu membandingkannya dengan orang lain, atau orang tua memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya.
c.       Jika anak menginginkan sesuatu, selalu ditolak dan dimarahi. Sementara orang tua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat dia sedang asyik bermain, misalnya untuk makan. Mungkin orang tua tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi masalah pada si anak di kemudian hari. Si anak akan merasa bahwa ia tidak akan mampu dan tidak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara dia sendiri harus selalu menuruti perintah orang tuanya. Ini konflik yang akan merusak emosi si anak. Akibatnya emosi anak meledak.
d.      Pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, sering terjadi Temper Tantrum, di mana dia putus asa untuk mengungkapkan maksudnya pada sekitarnya.
e.        mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah pada ayah atau ibunya.
3.      Gangguan perilaku merusak
Perilaku yang memperlihatkan agresivitas, ketidak-patuhan, dan antisosial. Anak suka membantah, kasar perangai, dan suka menyakiti orang lain. Pada tahap yang lebih parah, anak suka berbohong, berkelahi, mengganggu anak yang lebih kecil (bullying), mencuri, menghancurkan benda di sekitarnya.
4.      Gangguan kecemasan atau gangguan mood
Merasa selalu sedih, tertekan, tidak dicintai, gugup, takut, kesepian. Gangguan kecemasan dapat bermacam-macam bentuknya. Misalnya,  dinakali oleh anak yang lebih besar, merasa terpisah dari rumah atau orang tua. Contoh gangguan kecemasan lain pada anak adalah gangguan mood (terutama kesedihan) yang berlangsung melebihi periode normal. Anak tidak mampu lagi bergembira atau berkonsentrasi, selalu kecapaian, melakukan aktivitas ekstrim, apatis, selalu menangis, mengalami masalah tidur, berat badan berubah drastis, mengalami keluhan fisik yang tidak jelas, merasa diri tidak berharga, merasa tidak berteman, bahkan kadang-kadang berpikir ingin mati.
F.   Stimulasi Untuk Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 2-3 Tahun
Memiliki anak yang mempunyai kecerdasan sosial emosional yang baik, tentulah tidak mudah dan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Agar anak mampu mengelola sosial emosionalnya dengan baik, perlu dukungan dari orangtua, yang antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Tumbuhkan rasa ingin tahu anak, kreativitas dan imajinasi
2.      Melatih kemampuan pengendalian diri
3.      Berilah kesempatan anak untuk melatih cara pikir mereka
4.      Berilah Lebih banyak dorongan dan dukungan
5.      Tumbuhkan rasa percaya diri
6.      Latihlah Menghadapi dunia luar
7.      Tanamkan rasa hormat pada orang lain




BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diri seseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan.
Perkembangan sosial anak adalah tahapan kemampuan anak dalam berperilaku sesuai dengan harapan lingkungan (Hurlock,1998).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial emmosional pada anak yaitu :
1.      Genetik
2.      Lingkungan
3.      Sosial ekonomi
4.      Nutrisi
5.      Kesehatan
Selain faktor terdapat bebrapa gangguan pada perkembangan sosial emosional anak, yaitu sebagai berikut
1.      Autis
2.      Tantrum
3.      Perilaku merusak
4.      Gangguan kecemasan atau mood
Stimulasi perlu diberikan kepada anak agar perkembangan sosial dan emosional anak dapat berkembang dengan optimal.


DAFTAR PUSTAKA

Silvie. Tumbuh Kembang Sosial Emosional Anak Usia 2 Tahun (part 3). 2013, 26 Januari, 2013. di unggah pada tanggal 03 Juni 2013 di http://mammabenzema.blogspot.com/2013/01/a.html
Silvie. Tumbuh Kembang Sosial Emosional Anak Usia 2 Tahun (Part 1). 2013, 14 januari. Diunggah tanggal 03 Juni 2013 di http://mammabenzema.blogspot.com/2013/01/a.html
Reza Mega. Karakteristik Perkembangan Anak. 2013, 06 Febuari. Di unggah tanggal 03 Juni 2013 di http://rezamega1911.blogspot.com/2013/02/karakteristik-perkembangan-anak.html
rachmi maulana putri . Perkembangan Sosial Anak Usia Dini. 2012, 09 November. Diunggah tanggal 03 Juni 2013 di http://rachmimaulanaputri.blogspot.com/2012/11/perkembangan-sosial-anak-usia-dini.html
Ali Zaahir. Membangun sosial emosi anak usia 2-4 tahun., November 2012. Diakses pada tanggal 18 Juni 2013 di http://alizaahir.blogspot.com


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Cilegon,           2013


                               
                                                                                                        Penyusun








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah                                                                               1
B.     Rumusan masalah                                                                                         1
C.     Tujuan                                                                                                           2
BAB II PERKEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN
A.    Pengertian Sosial dan Emosional                                                                  3
B.     Pola perkembangan                                                                                       3
C.     Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Pada Anak Usia Dini        4
D.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Perkembangan Sosial dan Emosional                                                           6
E.     Gangguan Pada Perkembangan Sosial Emosional Anak usia 2-3 tahun      8
F.      Stimulasi Untuk Perkembangan Sosial emosional Anak Usia 2-3 Tahun 10